Senin, 23 Januari 2017

Menikmati Hidup

Perasaan bahagia  menjadi sebuah hal yang sangat berharga. Untuk menemukannya orang berani membayar mahal. Berekreasi keberbagai kawasan wisata, menikmati paket liburan keluar kota, menyepi dan menyindiri dari ritual yang membosankan, membeli aneka barang aksesoris , atau menikmati jamuan makan yang mahal dan istimewa. Kesusahan hidup mungkin sedikit terlupakan saat menikmati  dan melakukan kegiatan-kegiatan itu. Tapi hanya sekejap. Tidak lama kemudian kesusahanpun  datang dan hinggap.

Hal initerjadi karena memang perasaan suka cita dan gemira bukanlah sifat jasmani dan  dan tidak muncul akibat makanan  dan tempat tinggal .
Kadang kadang orang kaya yang memakan berbagai jenis makanan  dan tiduur dikasur yang empuk , lebih banyak mengeluh kesusahan hidup daripada simiskin yang tinggal hanya disebuah gubuk, dan tidur beralaskan tikar rombeng . Ini karena perasaan bahagia dan gembira lebih terkait dengan  kondisi batin. Bagaimana kondisi hati, itulah yang menentukan kebahagiaan.
Keamanan dan ketentraman hati itulah sumber kebahagiaan. Juga kepercayaan penuh dengan kemampuan diri  untuk menghadapi hidup, percaya kepada kekuatan yang telah Allah berikan kepada diri dan tidak mengeluh karena halangan  ditengah jalan , berusaha menghadapi segala halangan  itu dengan jiwa yagn tabah, pikiran yang teguh, dan hati besar. Perasaan bahagia ini nantinya akan berbekas  pada roman muka yang berseri seri dan senyum simpul  menawan  yang  memeperindah raut wajah.


Bila kita merenungkan sejenak, ternyata nikmat karunia yang kita terima sungguh  sangat banyak. Hari ini kita masih diberi kesempatan, menghirup udara menikmati segala fasilitas kehidupan.  Dia bangunkan kita dari tidur dengan penuh kesegaran tanpa kurang suatu apapun. Kita nikmati panca indra dan anggota tubuh yang masih berfungsi dengan baik.  Menghirup udara dengan bebas . Masih bisa menikmati beraneka  makanan dan minuman yang tersaji. Semua ini kelihatannya  seperti hal-hal kecil, namun sesungguhnya adalah rangkaian nikmat yang sangat besar. Apa jadinya bila diantara aktifitas yang kita lakukan kemarin menjadi penyebab kematian kita. Apa jadinya bila tadi malam roh kita tidak dikembalikan oleh Allah. Tentu saat ini kita tidak ada disini.

Allah memegang jiwa (orang ) ketika matinya dan ( memegang ) jiwa (orang) yang belum mati diwaktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir "(az-Zumar:42)

Apa jadinya   bila kita tidak bisa menikmati makan berhari hari, baik karena kekurangan makan atau karena sakit yang menimpa 
Apa jadinya bila  mata kita tiba tiba buta, telinga kita tiba tiba tidak dapat mendengar, atau tubuh kita menjadi lumpuh 
Semua ini merupakan karunia yang patut kita syukuri. merasa puas dan bersyukur dengan apa yang ada itulah sumber kebahagaian hati. 
Kesenangan hati tidak bisa dihargai dengan uang, tidak dapat dibeli, dan tidakdapat dijual. sebab ia adalah hasil dari pendidikan diri sendiri, terlahir dari kesadaran diri dengan karunia yang amat melimpah ini. Tidak perlu membayar dengan mahal . Cukup dengan ucapan Alhamdulillah; segala puji bagi Allah, dengan sepenuh hati dan penuh kesadaran atas nikmat yang kita terima, maka kebahagiaan itu  datang dan mengalir keseluruh jiwa.

Untuk menikmati hidup penuh bahagia, patutlah kita melihat sejenak bagaimana kehidupan Rosululah SAW Dalam buku sirah beliau banyak disebutkan bahwa beliau adalah seorang yang 
 da ' imal bisyri  selalu bergembira.   Apapun permasalahan yang menimpa, tidak pernah menghapus perasaan suka cita dan kesyukuran beliau kepada Tuhannya. 

(Diambil dari buku DAHSYATNYA  IKHLAS  SABAR  QONA'AH.  Oleh: Umar al-Faruq, Lc.
Penerbit: Ziyad)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar